Takut Biasa Saja

Table of Contents

Di zaman ketika semua orang ingin menjadi pusat perhatian, menjadi manusia biasa tiba-tiba terasa seperti sebuah kesalahan. Kita berlomba-lomba menunjukkan versi terbaik dari diri kita, seakan-akan nilai hidup hanya diukur dari berapa banyak orang yang melihat, menyukai, atau bertepuk tangan. Padahal, tidak semua orang ditakdirkan menjadi bintang yang menyinari panggung dunia. Sebagian dari kita adalah lentera yang menjaga cahaya di sudut-sudut kehidupan yang tidak pernah kamera tangkap.

Kegelisahan paling banyak muncul bukan karena kita gagal, melainkan karena kita merasa tidak cukup “wah” dibanding orang lain. Kita lebih sering membandingkan perjalanan daripada mensyukuri langkah. Kita lupa satu hal sederhana namun penting, Allah menciptakan kita bukan untuk menjadi luar biasa di mata manusia, melainkan untuk menjadi hamba yang taat di mata-Nya.

Sikap ingin diakui adalah kodrat manusia. Namun, ketika keinginan itu berubah menjadi kebutuhan utama untuk merasa bernilai, di situlah hati mulai rapuh. Kita seolah takut hilang dari dunia, padahal yang lebih berbahaya adalah hilang dari diri sendiri.

Menjadi biasa-biasa saja bukan berarti tidak punya mimpi. Justru, mimpi yang baik adalah mimpi yang membuat kita lebih dekat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih mengenal hakikat diri. Kesuksesan tidak selalu berbentuk puncak. Kadang, ia hadir dalam perjalanan, kesabaran menjaga amanah, keteguhan menjalani kebaikan, dan ketulusan dalam perbuatan kecil yang mungkin tidak pernah terlihat siapa pun.

Ada sebuah doa yang jarang kita sadari, doa menjadi manusia yang tenang, bukan manusia yang terkenal. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah mencintai hamba yang bertakwa. Sungguh, ketenaran bukan ukuran kemuliaan. Yang dinilai adalah apa yang tersembunyi di balik niat dan perbuatan kita.

Kita boleh bermimpi tinggi, tetapi tidak perlu takut jika hasil akhirnya tidak membuat kita menjadi sorotan. Yang penting adalah apakah kita sudah berusaha dengan jujur dan bersungguh-sungguh. Jika hidup hanya untuk membuktikan diri kepada manusia, kita akan terus lelah. Namun, jika hidup untuk mencari rida Allah, maka ketenangan akan mendahului kemenangan.

Mungkin dunia tidak mengenal nama kita. Mungkin tidak ada monument atau panggung megah untuk mengabadikan langkah kita, tetapi jika satu kebaikan kecil kita menjadi alasan seseorang menguat, itu sudah cukup menjadi jejak yang berharga. Di mata-Nya, tidak ada yang benar-benar biasa. Setiap hamba adalah ciptaan yang istimewa.

Jadi, mengapa kita takut menjadi biasa-biasa saja?

Selama kita tetap berjalan dalam kebaikan, setiap langkah adalah keberartian. Selama Allah melihat dan mencatat, tidak ada hidup yang sia-sia. Yang kita butuhkan bukan sorotan dunia, melainkan cahaya hati yang tetap menyala—meski hanya untuk diri sendiri dan Tuhan yang senantiasa menjaga.