Sampai Jumpa

Table of Contents

Perpisahan jarang datang dengan tanda khusus. Ia seperti kabut tipis yang turun perlahan tanpa suara. Kita masih saling melihat, tetapi tidak lagi benar benar bertemu. Pada titik itu, jarak mulai belajar berbicara. 

Dulu, hari-hari terasa seperti berjalan di jalan yang sama. Langkahnya ringan, arahnya jelas, dan tujuannya tidak pernah dipertanyakan. Namun waktu adalah makhluk yang gemar mengubah peta. Tanpa kita sadari, arah mulai berbeda.

Tidak ada pertengkaran yang perlu diingat. Tidak ada kata kasar yang perlu disesali. Hanya ada kesibukan yang tumbuh seperti hutan, makin rapat dan sulit ditembus. Di balik pepohonan itu, suara tawa perlahan menghilang. 

Tidak ada yang berubah secara tiba tiba. Hanya hari-hari yang menjadi semakin berbeda. Kesibukan tumbuh perlahan seperti jam pasir yang terus berkurang. Hingga suatu saat, kebersamaan tidak lagi menemukan ruangnya.

Waktu bekerja seperti penjaga gerbang. Ia menentukan kapan sesuatu boleh tinggal dan kapan harus pergi. Tidak semua yang pergi berarti ditolak. Sebagian hanya selesai menjalankan perannya. 

Kenangan tetap hidup meski kebersamaan telah usai. Ia tidak menuntut untuk diulang atau dihidupkan kembali. Ia hadir sebagai bagian dari perjalanan yang pernah bermakna. Dari sanalah rasa syukur perlahan belajar menetap.

Setiap pertemanan memiliki masanya masing masing. Ada yang bertahan lama, ada yang hanya singgah sebentar. Semuanya hadir dengan tujuan tertentu dalam perjalanan hidup. Tidak ada kebersamaan yang benar benar sia sia.

Setelah itu semua terjadi, rasanya baru sadar. Semua hari yang terlihat biasa seperti seekor kucing yang mengeong di pagi hari. Ketika suara-suara yang kerap didengar itu hilang, rasanya seperti ada yang kurang.

Episode hidup ini memang selalu terjadi, dan sebelum itu terjadi lagi, semua harus dinikmati dan dirasakan dengan pelan. Dari tiap momen yang terasa berulang setiap hari, menumpuk menjadi gunung di bawah seranting kayu.

Pada akhirnya, peristiwa yang terlihat biasa dan bosan di kehidupan tidak terasa hilang ketika waktu itu terjadi. semua itu terasa ketika momen yang kerap ada hilang disapu embun pagi. Dan ketika tersadar, hari-hari yang dianggap seperti kehidupan mati menjadi perasaan yang menyayat hati.

Setiap perjalanan hidup, kebersamaan singgah sebentar sebelum waktu memilih untuk mulai redup.