Tuan Putri dari Negeri Seberang
Mengapa daku diundang ke tempat semegah ini?
Tatkala pintu terbuka perlahan, hadirlah seorang wanita anggun bagaikan ratu malam yang menyinari istana. Dialah Nunea Magayion, putri kedua dari kerajaan Magayion. Pria itu tersipu, hanya berani memandang sekilas wajah indah yang bercahaya lembut itu.
Utusan berkata,
Wahai anak muda, tuan putri di hadapanmulah yang mengundangmu memasuki istana.
Pria itu menunduk hormat lalu menjawab,
Untuk apakah daku dipanggil kemari, wahai Putri? Padahal hamba hanyalah penduduk biasa dari negeri seberang.
Sang putri tersenyum samar, lalu berkata bahwa
ia hanya mengundangnya untuk menemaninya minum teh. Ternyata, tuan putri itu
memiliki sisi yang tak dikenal istana. Ia seorang wanita yang jenuh dipuja.
Sejak kecil, semua orang menunduk dan menjaga jarak, memuliakannya sedemikian
rupa hingga ia tak pernah merasakan perbincangan yang bebas. Kedudukannya yang
tinggi justru membangun tembok yang sunyi di sekeliling hidupnya.
Malam itu, di ruang teh yang hangat, mereka
duduk berhadapan tanpa gelar, tanpa tata istana. Sang putri tertawa ringan, tawa
yang jarang terdengar di aula kerajaan. Pria dari negeri jauh itu berbicara
sederhana tentang ladang, ayam, dan hujan di desanya. Hal-hal kecil yang bagi
istana tampak remeh, namun bagi sang putri terasa seperti udara segar dari
dunia yang tak pernah ia jejaki.
Menurut adat Magayion, tak sepantasnya seorang
putri bertemu lelaki jelata, terlebih seorang asing dari negeri jauh. Namun
kekuasaan tuan putri cukup untuk menyembunyikan pertemuan-pertemuan itu. Dengan
bantuan utusan setianya, pria itu kerap dipanggil diam-diam memasuki istana
saat malam merunduk.
Hari-hari berlalu. Pria yang dahulu tinggal di
lumbung padi kini lebih sering melangkah di taman istana daripada di halaman
kandangnya. Ia tak lagi canggung di hadapan kemegahan, sebab yang ia temui
bukan singgasana, melainkan seorang wanita yang merindukan kebersahajaan. Dan
sang putri pun tak lagi merasa terkurung gelar, sebab di hadapannya berdiri
seseorang yang memandangnya bukan sebagai mahkota, melainkan manusia.
Lambat laun, kebersamaan itu menumbuhkan
sesuatu yang tak terucap. Sang putri menemukan ketenangan di dekat lelaki itu,
sementara sang pria menemukan keberanian yang tak pernah ia miliki. Jarak
antara Magayion dan Venethia, antara istana dan lumbung, antara putri dan
rakyat, perlahan luruh seperti embun yang jatuh sebelum fajar.
Pada suatu malam yang lebih hening dari
biasanya, sang putri meminta utusannya memanggil pria itu sekali lagi. Di taman
belakang istana, di bawah cahaya bulan yang lembut, mereka berdiri berdua tanpa
pengawal. Angin malam membawa harum bunga dari kebun kerajaan.
Sang putri menatapnya lama, lalu berkata pelan,
Di hadapanmu, aku bukan lagi putri Magayion. Aku hanya seorang wanita yang tak ingin lagi sendiri di istananya.
Pria itu terdiam, lalu menunduk hormat seperti pertama kali datang. Namun, kini dengan hati yang mantap.
Hamba pun bukan lagi lelaki lumbung yang tersesat di istana, wahai Putri. Jika diizinkan, biarlah hamba tinggal di sisimu, bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pendamping.
Senyum sang putri merekah seperti rembulan
yang naik perlahan. Ia melangkah mendekat, sesuatu yang tak pernah dilakukan
seorang putri kepada lelaki jelata. Namun malam itu, adat dan derajat tak lagi
berdiri di antara mereka.
Tangan sang pria terulur dengan gemetar yang
lembut. Dan untuk pertama kalinya, tuan putri Magayion meletakkan tangannya di
dalam genggaman lelaki dari negeri seberang itu.
Di bawah cahaya bulan istana, pria itu
menggandeng tangan tuan putri, tangan yang dahulu tak terjangkau olehnya. Ia
memandang wajah indah yang kini begitu dekat, dan di sana ia tak lagi melihat
ratu malam yang jauh, melainkan wanita yang memilihnya di antara seluruh
negeri.
Malam Venethia dan Magayion seakan bersatu
dalam keheningan yang bahagia. Dan di saat itulah, seorang pria jelata dari
negeri seberang akhirnya pulang, bukan ke lumbungnya, melainkan ke istana hati
tuan putri yang kini berjalan di sisinya.
