Filsafat Kerukunan Masyarakat Jawa

Table of Contents

Dalam filsafat Jawa, terdapat sebuah kosakata yang menjadi salah satu fondasi kerukunan dan keharmonisan antarmanusia. Pandangan ini menuntun manusia untuk berpikir bijaksana dalam mempertimbangkan perasaan masing-masing individu. Setiap manusia memiliki perasaan, dan perasaan itu seharusnya dijaga setiap manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat Jawa, hal itu disebut sebagai sesengkeran. 

Kata sesengkeran memiliki banyak konteks yang tiap konteksnya juga berarti lain. Dalam tulisan ini kata sesengkeran diartikan dalam aturan sosial. Meskipun dalam kaidah jawa disebut sebagai aturan, hakikatnya ini adalah jalan hidup masyarakat Jawa yang tidak tertulis dalam kertas mana pun. Sesengkeran ini berasal dari kata sengker yang berarti batas, pagar, atau sesuatu yang sebaiknya tidak dilalui. Dalam budaya Jawa, sesuatu ini tidak boleh dilewati demi menjaga keharmonisan dan keselarasan bersama, sesuai dengan cap yang menempel pada orang Jawa yang cinta kedamaian.

Budaya ini dapat dipahami sebagai bentuk kearifan lokal yang mengatur seseorang bersikap dalam masyarakat. Dengan prinsip masyarakat Jawa yang suka dengan keharmonisan, kedamaian, dan hormat kepada sesama, kebiasaan ini dijadikan pedoman dan dasar bagi seseorang untuk memutuskan apa yang akan dilakukan dan diucapkannya baik atau buruk jika berada di ruang terbuka. Dalam makna lain, seseorang eloknya mengetahui tidak semua hal dan perkara bisa langsung disampaikan secara frontal dan lugas di khalayak umum. Ada batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilewati untuk menjaga kerukunan dan kehidupan bersama.

Dalam kehidupan sehari-hari, sesengkeran sering muncul dalam bentuk aturan tidak tertulis yang dikenal dengan istilah ora ilok atau “tidak pantas”. Misalnya larangan berbicara kasar kepada orang yang lebih tua, tidak memamerkan kekayaan secara berlebihan, atau tidak menyampaikan kritik secara langsung di depan umum. Larangan tersebut tidak selalu dijelaskan secara rasional, tetapi diterima sebagai bagian dari tata nilai yang menjaga keharmonisan sosial. Melalui sesengkeran, masyarakat diajarkan bahwa kebijaksanaan tidak hanya terletak pada apa yang dikatakan, tetapi juga pada apa yang sengaja tidak diungkapkan.

Di dunia modern, mungkin filsafat ini dianggap kuno dan kurang relevan untuk dipakai dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat pada saat ini lebih banyak beranggapan bahwa menyampaikan suatu pendapat harus diucapkan dengan lugas, terus terang, dan cepat. Namun, jika dipahami dan direnungkan kembali, banyak momen yang seharusnya dapat diselesaikan tanpa konflik hanya dengan menahan satu atau dua kata. Pada momen inilah, filsafat jawa ini diterapkan untuk individu berpikir dan dipertimbangkan secara bijaksana pada setiap pikiran dan kata yang harus disampaikan dan diucapkan di muka umum.

Sesengkeran juga mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu diungkapkan secara terbuka. Dalam beberapa situasi, menjaga kata-kata dan menahan diri justru menjadi bentuk kedewasaan. Kebijaksanaan ini mengingatkan bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang menjaga hubungan antarmanusia. 

Sesengkeran dapat dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mengandung nilai etika, sosial, dan filosofis. Pandangan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa mengembangkan cara hidup yang menekankan keseimbangan, kesopanan, dan penghormatan terhadap orang lain. Walaupun lahir dari tradisi lama, nilai-nilai yang terkandung dalam sesengkeran tetap relevan untuk dimengerti dan diterapkan.

Terkadang, bijaksana bukan hanya soal banyak berkata dan mengungkapkan sesuatu dengan benar, tetapi juga mengerti bagaimana tidak semua hal dapat disampaikan.